Saturday, 16 April 2016

Wednesday, 13 January 2016

Ngopi Yuk

Kali ini, kopi sudah tak asing lagi. Beberapa usaha telah dibuka untuk memanjakan lidah. Kopi yang dulunya berwarna hitam pekat dengan buliran hitam melekat di gigi dan bibir, kini masa lalu kopi itu telah berlalu. Telah bertambah dengan variasi aneka jenis. Tak heran, penikmat kopi sudah semakin bervariasi pula; kaum laki, dan kaum perempuan juga tak mau ketinggalan. 

Mengenai kenikmatan kopi, tak bisa saya pungkiri bahkan sampai detik ini. Perkenalan saya kepada kopi terjadi ketika masih belajar di pesantren. Belajar mandiri setelah kegiatan belajar mengajar formal, kopi selalu menjadi pilihan teman dalam belajar. Tentu saja, awalnya saya masih dalam tahap mencoba-coba, mengikuti teman seperjuangan yang sering menawarkan kopi. Keseringan ngopi akhirnya menjadikan saya benar-benar jatuh cinta kepada kopi. 

Tak hanya itu saja, faktor penyebab yang lain adalah karena kebutuhan. Yaitu kebutuhan “melek” agar bisa belajar semalaman, agar bisa membaca kitab sepanjang malam tanpa kantuk. Bila Anda pergi ke pesantren, maka tak jarang santri yang ‘gila’ belajar dapat ditemui dengan mudahnya. Keterbatasan mata yang mudah lelah, menjadikan kopi sebagai obat agar tahan ‘melek’. Bahkan, agar efek melek lebih ‘cospleng’, biasanya saya menambahkan sedikit garam dapur, sedikit saja. Memang terlihat sedikit aneh, tapi begitulah yang saya rasakan. 

Selama ini, kopi tak memberikan efek negatif bagi saya. Justru, kebiasaan ngopi saat di rumah sendirian; ketika membaca, menulis, dan mengoblog diyakini membawa banyak faedah. Rasanya seperti pikiran yang terbebaskan dari beban masalah, ada perasaan atau sesansi plong. Selain itu, kopi berhasiat memberikan efek ketenangan dan kenyamanan. 

Kopi tidak melulu dilakukan di rumah saat merenung dan lain sebagainya. Biasanya, saya juga diajak teman-teman aktivis untuk berdiskusi bersama, atau sekedar iseng agar timbrungan kami membahas keanehan dunia semakin sangar dengan kehadiran kopi. “kalau kita mau nyaman, hadirkan kopi dalam senjanya pagi atau pekatnya malam. Hadapkan wajah dalam rangkaian kata. Bacalah dan bacalah. Di saat itulah kita menjadi manusia yang luar biasa”. 

Manfaat kopi tak hanya itu saja, terkadang ia menjelma menjadi pemersatu dalam masyarakat. Atau, pemecah kebuntuan oleh kurangnya komunikasi antar warga. Salah satu apa yang bisa kita saksikan adalah apa yang terjadi di desa. Warung kopi menjadi populer, meskipun desa tersebut terbilang sepi—tidak seperti tempat umum, atau pun kota besar yang ramai. Di mana ada warung kopi, di situlah kaum pria berkumpul dan bercengkrama bersama. Asap-asap rokok seakan tak kenal lelah menghiasi sudut warung. Jalinan komunikasi terjalin di warung tersebut, kedekatan emosional satu sama lain terbangun secara otomatis. Selamat menikmati kopi!